Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

Mubes Cendikiawan Pidie Jaya Dipaksakan

Harian Aceh, Selasa, 12 Pebruari 2008
Banda Aceh | Harian Aceh—Delapan paguyuban dalam wilayah Kecamatan Pidie Jaya yaitu IPEMADU Meureudu, IPMB Lueng Putu, FOSMADA Meurah Dua, IPEMAJA Jangka Buya, IPEMABA Bandar Dua, IPM-PRAJA Panteraja, Ikatan Mahasiswa Tringgadeng, dan USA Ulim mempertanyakan legalitas hasil Mubes Cendikiawan Pidie Jaya yang dilaksanakan pada Minggu (10/2) kemarin di Opprom Kantor Bupati Pidie Jaya.

Ketua Panitia Pembentukan Paguyuban Mahasiswa Pidie Jaya di Banda Aceh, Syahrial Anwar, Senin (11/2) menjelaskan bahwa Panitia Pelaksana Musyawarah Bersama (Mubes) Forum Cendikiawan Muda Peduli Pidie Jaya dinilai belum siap dan terlalu dipaksakan pelaksanaannya.

Hal ini, kata dia, dapat dilihat dari tidak siapnya panitia pelaksana dalam memilih presidium sidang untuk membahas AD/ART, GBHO, GBHK lembaga dalam Mubes yang dudah digelar tersebut. Malahan, sebut Syahrial, duluan memilih seorang Ketua Umum Cendikiawan Muda Pidie Jaya.

“Kepada panitia janganlah melakukan kebohongan publik dengan duluan memilih seorang ketua umum organisasi. Ikutilah prosedur yang berlaku dalam melahirkan organisasi penguyuban,” ujar Syahrial memohon tegas.

Syamsul Rijal, Ketua Umum IPEMADU Meuruedu, menambahkan, hari ini pihaknya di Banda Aceh sangat mempertanyakan legalitas Mubes tersebut. Samsul mengharapkan kepada pemerintah daerah, tokoh-tokoh dan semua eleman dari keluarga besar masyarakat Pidie Jaya untuk meninjau kembali hasil Mubes yang telah dilahirkan.

Syamsul menjelaskan bahwa Mubes itu tidak dibuka langsung oleh pemerintahan daerah, padahal yang mewakili Pemda ada. Naumn, Mubes itu dibuka langsung oleh panitia pelaksana Mubes.

“Kenapa ini terjadi! kenapa Pemda Pidie Jaya tidak membuka Mubes,” tanya Syamsul dengan tersenyum nyengir kuda.

Lebih lanjut Syamsul Rijal juga mempertanyakan keabsahan peserta Mubes yang berasal dari kalangan mahasiswa, pelajar, pemuda, santri, pemuda, Sekda Pidie, Ketua DPRD, KPU/KIP Pidie, Ketua MPU Pidie dan Pidie Jaya. Menurutnya, semua mereka hanya menghadiri acara seremonial yaitu pembukaan acara, tapi mereka tidak menjadi peserta Mubes.

“Tidak ada peserta Mubes dan peninjau yang mendapatkan mandat dari organisasi bersangkutan untuk menghadari Mubes kemaren,” sebutnya.

Hal yang sama juga dipertanyakan oleh Ketua umum IPEMABA Bandar Dua, Fakhrurrazi Ismail, Ketua Umum IPM-PRAJA Panteraja, Zakaria Praja, Ketua Umum FOSMADA Meurah Dua, Fadli, S.Pd.I, Ketua Umum IPEMAJA Jangka Buya, Alfian Al-Fonso, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Tringgadeng, Agustiar, Ketua Umum USA Ulim, Muttaqin, serta Bahagia Ishak, ST Sekjend IPMB Lueng Putu.

Bahagia menjelaskan, dalam Mubes harus membahas semua persoalan lembaga, nama lembaga, Visi Misi, dengan dimulai dari rapat pleno, pembagian komisi dan rekomendasi-rekomendasi. Kata dia, ketua umum bukan tukang buat semua itu.

“Ketua Umum tugasnya bukan mempersiapkan AD/ART, GBHO, dan GBHK lembaga, tapi menjalankan program kerja, visi dan misi lembaganya,” demikian Bahagia Ishak.(taz)

Aktivis Pidie Jaya Bentuk Forum Cendikiawan Muda

Harian Aceh, Rabu, 06 Pebruari 2008
Meureudu| Harian Aceh—Gabungan aktivis/cendikiawan muda yang berasal dari beberapa organisasi masyarakat (Ormas) dan Organisasi Dayah Kabupaten Pidie Jaya berinisiatif membentuk panitia persiapan (tim perumus) Musayawarah Besar (Mubes) Forum Cendikiawan Muda Peduli Pidie Jaya, yang akan dilaksanakan pada 10 Februari 2008 nanti.

Ketua panitia persiapan, T. Musally, mengatakan, lahirnya ide ini berawal dari kondisi Kabupaten Pidie Jaya yang baru pemekaran, sehingga, kata dia, masih perlu dukungan dan kepedulian dari cendikiawan muda untuk menjadikan kabupaten tersebut sebagai pilot projek atau percontohan dari kabupaten lain.

Musally mengatakan, program utama dari forum yang akan dibentuk nantinya, untuk jangka pendek, menyukseskan Pilkada Pidie Jaya 2008 dalam menentukan pemimpin yang baik dan mampu membawa perubahan menuju kesejahteraan bagi masyarakat Pidie Jaya.

“Program jangka panjangnya untuk mendampingi pemerintah daerah dalam program yang dijalankanya serta program lainnya yang tidak tersentuh natinya,” terang Musally.

Selain itu, Irfan Sofyan, sekretaris panitia, menambahkan, pembentukan

forum tersebut bukan untuk saling bersaing merebut kekuasaan dalam berorganisasi. Namun, untuk mempersatukan serta membangkitkan semangat para cendikiawan Pidie Jaya agar lebih peduli terhadap daerahnya.

Selain itu, tambahnya, dengan adanya Musyawarah seperti ini, seluruh komponen, unsur cendikiawan Pidie Jaya akan berkumpul bertukar fikiran dan saling kenal-mengenal satu sama lain.(fan)

Selasa, 05 Januari 2010

Timkamda Deklarasi Relawan GAP-SBY

Serambi Indonesia, 25 June 2009, 08:10

BANDA ACEH - Tim kampanye daerah (Timkamda) pasangan capres dan cawapres SBY-Boediono mendeklarasikan berdirinya relawan Aceh Geutanyo Peumunang SBY (GAP-SBY), Rabu (24/6). Organisasi ini bernaung di bawah Timkamda SBY-Boediono yang bertujuan memperjuangankan kemenangan pasangan SBY-Boediono di Aceh.

Deklarasi sekaligus pengukuan kepengurusan GAP-SBY dilakukan oleh Ketua Tim Kamda Aceh, Ir Nova Iriansyah. Kegiatan yang berlangsung di Restoran Lamnyong ini dihadiri ratusan undangan yang terdiri dari kalangan pemuda dan mahasiswa. Dalam kepengurusanya GAP-SBY menempatkan Munzir sebagai koordiator, Bahagia Ishak sebagai sekeretaris, dan Faudi sebagai bendahara.

Saat melantik pada pengurus GAP-SBY, Nova Iriansnyah mengatakan, GAP-SBY diharapkan menjadi ujung tombak bagi kemenangan pasangan SBY-Boediono di Aceh. Keberadaan GAP dinilai punya peran penting untuk menginformasikan sosok pasangan capres/cawapres yang diusung 24 partai koalisi itu kepada masyarakat, terutama kalangan pemuda. “Kita harapkan pilpres di Aceh berjalan demokratis dan jujur. Masyarakat yang mendapat mandat politik sedapat mungkin dapat menyalurkan suaranya dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Koordianaor GAP-SBY, Munzir mengatakan, komposisi GAP didukung oleh kalangan pemuda, juga termasuk mahasiswa dan beberapa organisasi massa. “Untuk ke depan program GAP-SBY akan kita sesuai dengan kegiatan Timkamda,” ujarnya. Acara deklarasi juga dirangkai dengan orasi politik yang disampaikan Juru Bicara Timkamda Muhammad MTA dan Banta Syahrizal.(Sar)

Warga Pusong Minta Pindah ke Pijay

Serambi Indonesia, 24 Maret 2009.

MEUREUDU - Masyarakat Desa Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, meminta kepada pemerintah atasan agar status administrasi desanya dipindahkan ke Lueng Putu, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Salah satu alasannya adalah jarak tempuh antara Kecamatan Kembang Tanjong dengan Lueng Putu.

“Usulan pemindahan administrasi pemerintah gampong telah disampaikan kepada wakil Bupati Pidie, Nazir Adam, saat datang ke daerah ini,” ujar Zulkifli M Yahya (45), tokoh masyarakat Pusong, Senin (23/3).

Disebutkan, jumlah penduduk Desa Pusong mencapai 575 jiwa, dengan luas daerah 3.000 m3. Desa itu dikelilingi laut, terpencil, dan jauh dari pusat Kota Kecamatan Kembang Tanjong. Sebelah barat berbatas dengan Kuala Tari, sebelah selatan berbatas dengan tambak Desa Lancok Kecamatan Bandar Baru, sebelah timur berbatas dengan Kuala, sebelah utara berbatas dengan laut Selat Malaka. Gampong Pusong merupakan salah satu daerah yang paling parah terkena tsunami di Pidie.

“Jarak tempuh Pusong ke Kembang Tanjong 20 Km, sedangkan ke Luengputu hanya 7 Km. Anak-anak kami sekolah di Luengputu, hanya ada satu jalan keluar masuk dari dan ke Gampong Pusong ke Luengputu. Sedangkan ke Kembang Tanjong jalannya jauh. Itu pun jarang, hanya untuk keperluan urusan surat menyurat datang Kecamatan,” papar Zulkifli.

Selain itu, sebut Zulkifli, akses jalan menuju Pusong hanya dapat dilalui melalui jalan yang dibangun dengan swadaya masyarakat tahun 2004 lalu. Warga pusong menimbun tambak untuk dijadikan jalan tembus dari Desa Pusong menuju Desa Lancok, dan pusat Kecamatan Luengputu, Kabupaten Pidie Jaya.

“Tidak ada jalan menuju Kembang Tanjong. Akses ke pusat Kecamatan terputus. Sebelum ada jalan dulu, transportasi masyarakat dengan boat. Hingga sekarang, masyarakat lebih mudah berbelanja ke Luengputu. Setiap hari kami pergi ke Luengputu untuk transaksi jual beli. Kami menjual ikan, udang, kepiting, dan hasil tambak ke pasar Bandar Baru,” ujarnya.

Karenanya, tambah Zulkifli, masyarakat Pusong meminta Pemkab Pidie agar mengizinkan desa itu pindah ke abupaten Pidie Jaya. “Kami juga memohon kepada Pemkab Pidie Jaya menerima kami masuk dalam wilayah Luengputu,” demikian pungkas Zulkifli.

Dukungan
Permintaan warga Pusong tersebut mendapat dukungan dari Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Pidie Jaya (IMPIJA). Ketua Humas IMPIJA, Bahagia Ishak meminta Pemkab Pidie menerima keinginan warga Pusong untuk pindah administrasi ke Pidie Jaya. Sebaliknya, Pemkab Pidie Jaya juga harus menerima warga Desa Pusong.

Menurutnya, Desa Pusong secara geografi dekat dengan pusat Kecamatan Bandar Baru, dan jauh dari Kembang Tanjong. Buktinya, masyarakat Pusong menjual hasil tangkapan ikannya dan membeli sembako di pasar Luengputu. “Biarlah masyarakat Pusong yang profesinya sebagai nelayan merasakan pembangunan lebih baik dari sebelumnya. Jangan ada lagi daerah terisolir dan terpencil,” demikian Bahagia.(s)

Mahasiswa Aceh Jadi Tim Peumenang SBY

Yuli Rahmad | The Globe Journal | Jum`at, 19 Juni 2009

Banda Aceh – Sejumlah mahasiswa Aceh mulai menunjukkan keberpihakannya kepada salah satu kandidat Calon Presiden dan Wakil presiden. Hal itu terlihat dalam keikutsertaan sejumlah mahasiswa Aceh dalam Kelompok Geutanyoe Aceh Peumenang – SBY (GAP-SBY).

Berdasarkan data yang diperoleh The Globe Journal, Sabtu (20/6) dari salah satu sumber memperlihatkan susunan Koordinator Pusat GAP-SBY, diketahui puluhan mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Aceh terdaftar dalam berbagai bidang dalam susunan tersebut.

Sekretaris Badan Pelaksana Harian GAP-SBY Bahagia Ishak mengaku adanya keikutsertaan mahasiswa dalam kelompok pemenangan SBY ini. Namun tidak melatarbelakangi status mahasiswa yang diembannya. “Keikutsertaan mereka hanya dalam kapasitas Pemuda,” ujar mahasiswa program Magister Teknik Kimia Unsyiah ini.

Waladan Yoga mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah menjelaskan keikutsertaannya tak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan Bahagia untuk mengambil peran sebagai salah satu elemen masyarakat dalam memenangkan kandidat yang dianggap layak memimpin Indonesia. “Kami tidak membawa embel-embel mahasiswa,” ujarnya ringkas.

Menyikapi keikutsertaan mahasiswa dalam GAP-SBY, aktivis HMI ini menyebutkan, banyak tokoh mahasiswa lainnya yang juga turut serta dalam pemenangan salah satu kandidat Capres dan Cawapres. Hanya saja sebutnya, mungkin tokoh-tokoh mahasiswa lainnya belum terdaftar secara jelas pada struktur pemenangan kandidat yang dijagokan secara jelas. “Demokrasi tidak mengharamkan masyrakat Indonesia turut memenangkan salah satu calon. Hanya saja, tokoh mahasiswa harus bisa menempatkan diri. Dan ini komietmen saya sebelum bergabung di GAP-SBY,” ujar Yoga.[003]

Tiga Tahun Magister Teknik Kimia Unsyiah

Tabloid DETaK Unsyiah

Memasuki umurnya tiga tahun telah menjadikan Program Magister Teknik Kimia disukai oleh berbagai kalangan. Sampai hari ini telah memiliki delapan puluh delapan orang mahasiswa, dan telah berhasil mewisudakan sembilan orang mahasiswanya. Program studi baru, telah menjadikan program pilihan oleh para Kepala Dinas, pengawai pemerintah, anggota dewan, dosen, pekerja industri, aktivis lingkungan hidup, pengusaha, sampai pekerja NGO dan LSM mendaftar sebagai mahasiswa.

Dr.Ir.Yunardi, MASc, Ketua Magister Teknik Kimia didampingi oleh sekretarisnya Dr.M.Dani Supardan,ST,MT mengatakan dalam pertemuan dengan para mahasiswa baru Magister Teknik Kimia Unsyiah di ruang kuliah umum Jurusan Teknik Kimia, Sabtu (2/8).

Sektor Industri sebagai salah satu andalan pendapatan daerah, serta menunjang pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Dimana mampu memberi konstribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja. Keberhasilan pembangunan industri nasional bukan saja di ukur dari kemampuan pengembangan industri, tetapi juga dilihat dari dampak terhadap lingkungan, ungkap Dr.Ir.Yunardi,MASc.

Lebih lanjut Doktor ini menambahkan implementasi pembangunan industri dan minimalisasi dampak lingkungan merupakan dua aspek saling berkaitan. Menghadapi berbagai kendala dan tantangan kompleks, seperti konservasi sumber daya alam, utilitas energi terbarukan, persaingan global menjadi tantangan bagi kita semua ucapnya.

Program Magister Teknik Kimia (MTK) dirancang untuk mempersiapkan sumber daya manusia Aceh yang bekerja di sektor industri, pemerintahan, swasta. Sehingga alumnus program ini diharapkan memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk menjawab tantangan-tantangan diatas, ungkapnya tegas.

Dr.Ir.Yunardi,M.Sc menjelaskan program Magister ini memberikan penekanan pada bidang konservasi sumber daya alam dan pengelolaan lingkungan dalam dua bidang yaitu Bidang Teknologi Proses dan Teknologi & Manajemen Lingkungan.

Hal ini disambut baik oleh Ismet Tanjong, ST salah seorang peserta matrikulasi menyambut baik tekad Program Magister Teknik Kimia Unsyiah ini dalam mendidik anak-anak Aceh.

Menumbuhkan perekonomian Aceh perlu ada program pembangunan kembali ekonomi dengan meletakkan pondasi yang kuat terhadap pembangunan ekonomi. Pemulihan perekonomian dapat dilakukan dengan membuka peluang investasi bagi investor untuk menanam modal di Aceh. Investasi di beberapa sektor penting seperti pertanian, perikanan, pertambangan dan pariwisata, akan membuka lapangan kerja baru di Aceh ucap Ketua BEM Universitas Serambi Mekkah tahun 2001-2002 lalu.

Ismet Tanjong, Ketua Umum Fokusgampi tahun 2004-2006 ini juga dipercaya sebagai Ketua Jurusan Teknik Industri Universitas Serambi Mekkah. Ismet menambahkan, Aceh membutuhkan orang-orang peduli terhadap pengembangan sektor industri dan lingkungan Aceh. seperti adanya industri di Aceh telah menambah pendapatan daerah serta lingkungan tercemar oleh limbah mereka ucapnya.

Hal senada juga diucapkan oleh Muhammad Nur, dosen Bidang Kesehatan Lingkungan Universitas Jabal Ghafur Sigli menyambut baik tekad Program Magister Teknik Kimia Unsyiah ini dalam mencetak sumber daya manusia lokal, sehingga saya mendaftar sebagai salah seorang mahasiswanya.

Anggota DPRK Kabupaten Pidie ini memilih Magister Teknik Kimia untuk peningkatan kapasitas sebagai Anggota Dewan Komisi D Bidang Kesehatan. “Mempersiapkan diri untuk back to basic sebagai dosen.

Ketua HMI Sigli tahun 2000-2001 ini menambahkan, hadirnya program ini dapat dimanfaatkan oleh intelektual Aceh dalam menuntut ilmu. “Kita tidak perlu lagi keluar daerah dan luar negeri belajar teknologi proses dan teknologi manajemen lingkungan” ucap alumni FKIP Biologi UNIGHA dengan semangat.[]

Publication Tabloid DETaK Unsyiah Edisi 25 Juli 2008

Bupati Lantik Penguyuban Pidie Jaya

Tanggal 15 Juni 2008 kemaren genap sudah umur Pidie Jaya setahun. Banyak kegiatan dalam rangka memeriahkan hari jadi pertamanya dilaksanakan. Walaupun rumah tangga Pidie Jaya masih banyak kekurangan, terutama masalah ekonomi. Masa sulit dan susah, datang silih berganti. Pidie Jaya diibaratkan seperti pengantin baru memulai hidup baru dengan pasangannya. Memerlukan arahan dan wejana dari orang tua dalam menempuh mahligai rumah tangga.

Bersama membangun Pidie Jaya. Itulah tema diangkat oleh para pemuda saat silahturahmi bersama tokoh-tokoh masyarakat Pidie Jaya pada acara pelantikan Ikatan Mahasiswa Pemuda Mahasiswa Pidie Jaya (IMPIJA) Banda Aceh, Minggu (13/7) di Anjong Mon Mata Banda Aceh kemaren.

Drs Salman Ishak, M.Si, Pj Bupati Pidie Jaya dalam sambutannya mengharapkan kepada putra putri terbaik Pidie Jaya untuk tidak puas dalam mencari ilmu. Teruslah belajar mengajar serta berbuat bagi kamajuan Aceh dan Indonesia.

Lebih lanjut Bupati mengatakan memulai sesuatu dimulai dengan keiklasan. Maka akan ada kemudahan serta tercapai semua yang dicita-citakan. Jangan takut berbuat baik bagi kepentingan umat. Jika ada kesalahan dari pemerintah, tolong diingatkan. Mari sama-sama bersama generasi muda kita bangun Pidie Jaya mencapai kejayaannya, harapnya.

Pembentukan penguyuban pemuda ini dilakukan oleh delapan penguyuban kecamatan dalam kabupaten. Proses demokrasi terjadi dalam memilih seorang ketua. Dua orang calon mendaftar, yaitu Zakaria Praja dari Universitas Serambi Mekkah, dan Fauzi dari IAIN Ar-Raniry.

Sidang Musyawarah Besar Pemuda Pidie Jaya pertama berlangsung di Gedung Training Center Unsyiah, tanggal 5-6 April 2008 lalu. Forum memilih seorang pimpinan sidang yaitu Bahagia Ishak, ST. Sidang demi sidang berlangsung alot, hingga berlangsung sampai tengah malam. Membahas AD, ART, GBHO dan GBHK lembaga. Zakaria tampil sebagai pemenang, mengalahkan Fauzi saat pemilihan seorang ketua tiba.

Akhirnya Bahagia Ishak, Pimpinan sidang membuat sejarah lahirnya Penguyuban Pidie Jaya dengan mensahkan nama Zakaria Praja sebagai Ketua Ikatan Mahasiswa Pemuda Mahasiswa Pidie Jaya (IMPIJA) Banda Aceh periode 2008-2010. Dalam amanahnya, Bahagia Ishak mengharapkan dengan organisasi ini ikut memperkuat ikatan kekeluargaan silaturahmi masyarakat bersama mahasiswa pemuda pelajar kita, ucapnya.

Itulah sejarah pembentukan penguyuban pemuda Pidie Jaya. Zakaria Praja, Ketua IMPIJA Banda Aceh terpilih mengatakan bersama pengurus dilantik, siap menberi kontribusi bagi pembangunan Pidie Jaya. Pemuda adalah pemersatu bangsa. Mari satukan persepsikan dan tujuan demi Pidie Jaya, demikian ucapnya.

Muzakkir Kaoy, salah seorang tokoh Pemuda Pidie Jaya di Banda Aceh menilai lambat geliat pembangunan dicapai pemerintah daerah. Terutama tidak ada dana untuk memberi beasiswa pendidikan bagi putra putri Pidie Jaya. “Mohon Pemerintah Daerah memperhatikan serta mengembangkan SDM Pidie Jaya” ucapnya.

Direktur Eksekutif LemPeDat Aceh ini juga mengharapkan IMPIJA memperjuangkan nasib para mahasiswa untuk mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah daerah, ucapnya dengan tenang.[]

Perubahan Iklim Ancam Bumi

Oleh: Salman Mardira - 16/11/2009 - 15:57 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Waspadalah terhadap pemanasan global dan perubahan iklim yang kian mengancam bumi. Caranya adalah menjaga lingkungan dari kerusakan.

“Bumi dalam ancaman perubahan iklim,” kata Bahagia Ishak, Ketua Forum Wacana Indonesia (FWI) Aceh, dalam rilis yang dikirim ke acehkita.com, Senin (16/11).

Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, telah menyebabkan perubahan iklim, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan dan tekanan udara, serta berubahnya pola curah hujan.

Meningkatnya gas rumah kaca di atmosfir akibat aktivitas manusia di bumi juga telah mempengaruhi suhu permukaan bumi secara global (pemanasan). “Gas ini mampu menyerap radiasi matahari di atmosfir sehingga menyebabkan suhu di permukaan bumi menjadi hangat,” ujar Bahagia.

Di Aceh, kata dia, perubahan ini sudah mulai terjadi, setidakya terlihat dari pola cuaca yang cepat sekali berubah-ubah serta seringnya terjadi bencana alam, seperti banjir dan longsor.

Menurutnya, ini terjadi akibat kerusakan lingkungan yang sudah sangat meresahkan. “Hutan terus digunduli, sungai-sungai tak luput dicemari dengan pembuangan berbagai limbah cair. Semua itu terjadi akibat ulah manusia sendiri, yang senantiasa melakukan perusakan terhadap alam, atas nama pembangunan. Bila tak segera diredam, bisa timbul bencana alam lebih besar lagi,” tukasnya.

Mengingat perubahan iklim merupakan isu global, kata Bahagia, perlu keterlibatan semua pihak secara global pula untuk menanganinya. []

Kerusakan Hutan Aceh Dibahas di UI

Junaidi | The Globe Journal |Senin, 16 November 2009

Banda Aceh - Perubahan iklim di Aceh telah merubah kondisi rata-rata suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin dalam jangka waktu yang panjang. Hal inilah yang menyebabkan salah seorang mahasiswa pasca sarjana Aceh dipercayakan untuk menjadi salah seorang Narasumber dalam Simposium Nasional II Forum Pascasarjana Indonesia Tanggal 19–21 November 2009 di Universitas Indonesia (UI). "Pola cuaca cepat sekali berubah, musim hujan datang jarang, dan datangnya musim kemarau berbulan-bulan menyebabkan kekeringan,” ucap Bahagia Ishak, Ketua Umum DPW Forum WACANA Indonesia (FWI) Aceh, Minggu (15/11) yang mewakili Mahasiswa Pasca Sarjana Aceh dalam pertemuan tersebut sekaligus merangkap sebagai narasumber.Kepada The Globe Journal, Bahagia menyebutkan dirinya menjadi pada pertemuan tersebut akan mempresentasi makalah Bumi dalam Ancaman Perubahan Iklim.

”Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi menyebabkan terjadinya perubahan iklim, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan di udara, berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya merubah pola iklim dunia,” ucapnya.

Bahagia menyebutkan, panitia pelaksana Simposium Nasional II Forum Mahasiswa Pascasarjana Indonesia adalah Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia, “Tema yang diangkat dalam Simposium Nasional Forum Wacana Indonesia adalah Pengaruh utama Kesejahteraan dan Upaya Pencapaian MDGs di Indonesia dalam Berbagai Perspektif Keilmuan,” ungkap Bahagia.

Lebih lanjut mahasiswa Magister Teknik Kimia Bidang Teknik Lingkungan Unsyiah mengatakan dalam proses perubahan iklim terjadi sangat lamban, sehingga dampak tidak langsung dirasakan saat ini. Namun akan sangat terasa bagi generasi mendatang. Perlu disadari bahwa ketika perubahan iklim telah terjadi, maka tak satupun upaya yang dapat mengembalikan kondisi ke keadaan semula.

Penyebab utama pemanasan global adalah Gas Rumah Kaca (GRK), gas-gas di atmosfer yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia. Gas ini berkemampuan menyerap radiasi matahari di atmosfer sehingga menyebabkan suhu di permukaan bumi menjadi hangat. Meningkatnya GRK di atmosfer akibat aktivitas manusia pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu permukaan bumi secara global.

Menurut Bahagia, kerusakan lingkungan di Aceh kian menjadi, hutan terus digunduli, sungai-sungai tak luput dicemari dengan pembuangan berbagai limbah cair. Dampaknya pun terasakan hingga kini, ketika bencana alam terjadi, masyarakat merasakan dampaknya. "Semua itu timbul akibat ulah manusia sendiri, yang senantiasa melakukan perusakan terhadap alam, atas nama pembangunan. Bila tak segera diredam, niscaya bisa timbul bencana alam lebih besar,” sebutnya mengutip isi makalah yang akan dibawakan nanti.

Bahagia menambahkan, isu perubahan iklim merupakan isu global sehingga perlu keterlibatan semua pihak dalam penanganan secara global. Upaya pengelolaan lingkungan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah belum berjalan secara maksimal. “Salah satu masalah adalah kemampuan aparat pemerintah dalam pengolaan lingkungan perlu ditingkatkan, melakukan koordinasi antar sektor belum berjalan dengan baik,” ungkapnya. [003]